ONNO W. PURBO Lebih baik jadi guru Demi Kecerdasan Bangsa
Hidup harus bermanfaat
untuk orang lain. Inilah prinsip hidup sosok pria sederhana yang dikenal
sebagai Pakar Internet Indonesia. Tidak heran bila dengan pengetahuan
yang dimiliki, sebagian hidupnya diabdikan untuk mencerdaskan bangsa
dengan karya-karyanya yang inovatif, seperti Wajanbolic yang sekarang
ini menjadi solusi banyak orang di pelosok desa untuk bisa terkoneksi
internet dengan baik dan murah.
ONNO WIDODO PURBO atau lebih dikenal
dengan sebutan Kang Onno W. Purbo, demikian tokoh teknologi informasi
(TI) nasional yang nama namanya disebut-sebut selalu berpihak pada
kesejahteraan rakyat kecil ini. Dengan kreatif, ia selalu berupaya
mengembangkan solusi-solusi untuk menciptakan layanan internet dan
telekomunikasi menjadi lebih murah untuk rakyat. Onno pernah menggagas
RT/RW-Net dan penerapan Open Base Transceiver Station (BTS) serta
membuat karya bernama Wajanbolic.
“Sebaik-baiknya manusia adalah yang
bermanfaat buat orang lain,” ujar lulusan Tehnik Elektro, Institut
Teknologi Bandung (ITB) ini mengutip salah satu hadist yang menjadi
inspirasinya untuk berbagi ilmunya dengan orang lain. “Jadi buat apa
kaya, pintar, punya jabatan tinggi kalau tidak bermanfaat untuk orang
lain?” lanjutnya.
Memahami hal tersebut, Onno lebih
memilih berkiprah di dunia TI di jalur independen dibandingkan terikat
dengan perusahaan ataupun instansi. Bahkan saat banyak tawaran untuk
menjadi konsultan, tetap ditolaknya. Dirinya lebih memilih untuk tetap
menjadi guru, sebagai upaya untuk mencerdaskan bangsa ini dengan ilmu
yang dimilikinya.
“Belasan tahun lalu saya sempat
dikumpulkan dengan dosen ITB lainnya di suatu ruangan. Saat itu kami
semua ditanya oleh pengajar senior, Bapak Prof. Samaun Samadikun,
tentang cita-cita kami. Semua dosen di ruangan tersebut menjawab ingin
menjadi industriawan dan hanya saya satu-satunya yang menjawab ingin
menjadi guru alias pendidik,” ujar bapak dari enam anak ini bercerita.
Saat mengundurkan diri mengajar di ITB
tahun 2000, dirinya tetap mendidik melalui, seminar, workshop, artikel
maupun buku yang ditulisnya yang dapat diunduh secara gratis.
Kecintaannya terhadap profesi guru ini tetap ditekuninya hingga kini.
Pada 2011, Onno sempat bergabung mengajar di Sekolah Tinggi Kejuruan dan
Ilmu Pendidikan (STKIP) Surya yang secara khusus mengajar dan mendidik
para guru yang berasal dari daerah Papua, NTT, Bengkulu dan Kepulauan
Riau.
Salah satu yang digaunginya dalam
memberikan pendidikan adalah teknologi Open BTS yang dianggapnya mampu
menjadi solusi murah telekomunikasi di tanah air dan solusi ini bisa
segera mengatasi permasalahan telekomunikasi yang belum tersebar ke
pelosok-pelosok daerah yang selama ini terhambat karena infrastrukturnya
mahal dan dari sisi operator sendiri enggan membangun karena dianggap
tidak menguntungkan.
“Bayangkan bila BTS selular 60 watt
buatan Siemen Nokia dihargai antara Rp.500juta-Rp.1,5 milyar dengan Open
BTS yang hanya membutuhkan Rp.150 juta sudah termasuk sentral telephon.
Seharusnya Open BTS ini bisa dijadikan jalan keluar untuk
telekomunikasi yang murah untuk rakyat. Namun kembali lagi ke
pemerintahnya, mau tidak menerapkan ini?”
Dengan gaya bicara yang ceplas-ceplos,
lulusan McMaster University, Kanada dan penyandang gelar Ph.D dari
Universitas Waterloo ini menganggap pemerintah masih belum berpihak pada
rakyatnya.
Berikut petikan BISKOM dengan kelahiran
Bandung, 17 Agustus 1962 yang kerap dianugerahi beragam penghargaan
secara nasional maupun internasional ini.
Hal apa yang membuat Anda tertarik dengan dunia TI?
Hobi saja. Awalnya waktu sekolah dulu
ada pelajaran menyolder untukmembuat lampu klip-klop atau sirene.
Akhirnya keterusan dan mulai masuk kuliah jurusan komputer dan mulai
terjun ke duania TI. Pokoknya semua tidak sengaja. Saya buat Open BTS
juga hobi saja, coba-coba dan ternyata bisa dan nyambung lalu saya coba
kembangkan terus.
Secara umum menurut pengamatan Anda, bagaimana perkembangan TI saat ini dibanding tahun-tahun sebelumnya?
Sebagai user atau pengguna kita bisa
ranking ke 2 atau 3. Hal ini bisa dilihat dari pengunaan Facebook,
Twitter, Google+ dan lainnya di berbagai media sosial di internet
termasuk yang terbesar. Juga dari sisi pengggunaan internet melalui
seluler sudah banyak digunakan anak muda kita saat ini.
Namun konsekuensinya menyedihkan, kita
harus membeli ponsel ataupun gadget dari negara lain dalam skala
mendekati Rp. 2-3 trilyun. Padahal saya masih mimpi, pasar Indonesia
dikuasai oleh industri TI local. Tidak seperti sekarang, uang kita lari
ke keluar negeri semua.
Sebenarnya apa keinginan Anda pribadi untuk bangsa ini dan untuk dunia TI khususnya?
Masih sama dengan yang lalu, yaitu ingin
melihat bangsa ini hidup dari kekuatan otaknya tidak hanya mengandalkan
otot dan bedil saja. Khususnya dalam dunia TI inginnya kita bisa
menjadi produsen juga jangan hanya hebat sebagai pengguna dan konsumen
saja.
Namun konyolnya sekarang inikan TI malah
dicoret dari kurikulum pendidikan oleh Diknas. Tentunya ini semakin
menjadikan kita terus menjadi negara konsumen. Jadi kalau bangsa ini
masih begini saja, bisa-bisa Indonesia akan tenggelam dengan produk
asing. Tetapi mudah-mudahan dengan pemilu 2014 nanti bisa menghasilkan
pemimpin yang pintar dan bisa merubah semua ini.
Bagaimana Anda menilai pertumbuhan TI di masa mendatang dilihat dari karakter masyarakat dan wilayah grafis Indonesia?
Sebenarnya dari sisi pertumbuhan sangat
baik dan ini akan lebih dipercepat lagi kalau pemerintah cukup cerdas
mengimbangi pertumbuhan tersebut, misalnya dengan cara memberikan
insentif bagi aplikasi lokal di Indonesia, memberikan insentif bagi
Google, Facebook, Twitter dan lain sebagainya untuk bisa hosting dan
bekerjasama dengan developer lokal, mewajibkan semua gadget yang beredar
harus dibuat di pabrik lokal, dan membuat kurikulum TI untuk semua
sekolah serta membuat lebih banyak lagi program studi TI di
kampus-kampus.
Banyak permasalahan di bidang
telekomunikasi yang hingga saat ini belum terselesaikan, misalnya saja
masalah koneksi internet yang lambat. Idealnya, koneksi internet yang
baik itu seperti apa?
Terus terang tidak akan pernah tercapai
yang namanya ideal itu. Saya sendiri di rumah mempunyai 3 televisi LCD
layar lebar yang melakukan streaming video on demand dari server lokal
di rumah dengan kecepatan 100-1000Mbps.
Jadi kalau mau nonton film seri high
definition yang ada di TV semuanya tinggal streaming server dari rumah
yang dibuat sendiri. Belum lagi 3 Network Attached Storage (NAS) yang
filenya sebesar 9 Tb tersambung ke jaringan LAN, WiFi dan Wireless Mesh
lokal.
Saya yakin bangsa ini maunya juga
seperti ini kecepatannya, maka sebaiknya pemerintah mengizinkan
rakyatnya membuat sendiri jaringannya. Membuat sebanyak mungkin server
lokal, baik itu di rumah, kampus, kantor bahkan kalau bisa di
masing-masing kota dibuat server-server multimedia lokal untuk
komunitas.
Jadi kita bisa mengubah paradigma TV
digital menjadi Internet Multimedia sehingga bisa internet, audio
streaming dan video HD streaming menggunakan infrastruktur internet
gigabit buatan rakyat.
Jadi solusinya membuat jaringan lokal sendiri?
Betul, bila diizinkan membuat sendiri
jaringan lokalnya, maka internet kita bisa cepat. Kuncinya cukup simpel.
Pertama, buat semua server lokal di Indonesia dengan sedikit mungkin
pakai server luar negeri.
Kedua, izinkan rakyat membuat jaringan
sendiri baik itu kabel tembaga, wireless maupun fiber optic dengan
membuang jauh-jauh segala izin yang menyulitkan. Ketiga, jadikan telepon
sebagai layanan di atas internet, telepon tidak lagi esklusif bagi
operator dan beri alokasi kode area telepon untuk rakyat.
Keempat, bebaskan frekuensi seluler agar
terutama di pedesaan bisa membangun BTS selular sendiri yang bisa
menggunakan teknologi Open BTS. Serta kelima, pemerintah hendaknya
melakukan investasi pada jaringan backbone fiber kabel laut antar pulau
dan jaringan backbone ke daerah perbatasan dan pedalaman.
Lalu tanggapan Anda mengenai belum terpenuhinya kebutuhan telekomunikasi dasar di berbagai wilayah Indonesia?
Itu menjadi tugas pemerintah untuk
memenuhi hak asasi telekomunikasi rakyat. Seperti saya bilang tadi,
sebutulnya cara mengatasi hal tersebut cukup mudah dengan cara memberi
kebebasan bagi rakyat daerah terpencil untuk membuat sendiri jaringan
telekomunikasinya. Cukup murah kok, dengan biaya Rp.150-200 juta bisa
jadi satu BTS dengan daya 60 watt lengkap dengan sentral telepon dan
lain-lainnya. Anggaran tersebut kan bisa ditalangi secara swadaya
masyarakat desa. Masalahnya, mereka belum tahu ilmunya saja.
Pemerintah Daerah (Pemda)
Jakarta dan beberapa daerah di Indonesia telah melakukan inisiatif untuk
mengadakan ruang publik yang sudah tersambung dengan WiFi. Menurut Anda
cukup berhasilkah cara ini?
Saya sendiri belum banyak merasakan WiFi
gratis dari Pemda dan belum tahu kalau itu ada. Sekarang inikan
biasanya di hotel-hotel, restouran dan kafe yang memberikan WiFi gratis.
Sebetulnya kalau Pemda menyediakan WiFi gratis yang perlu digalakkan
adalah memberikan akses internet ke sekolah-sekolah karena disitulah
kuncinya yang lain akan ikut, karena terjadi demand dari anak-anak
sekolah tersebut.
Dalam setiap kesempatan diskusi,
Anda kerap memperkenalkan istilah dan cara-cara unik
untuk membuat
komunikasi menjadi lebih baik, misalnya Wajan Bolic dan Open BTS. Apakah
sejauh ini banyak pribadi maupun perusahaan yang mengadopsi solusi yang
diajarkan?
Untuk Wajanbolic saya sering lihat alat
ini bertengger di rumah-rumah penduduk terutama di kota-kota di luar
jawa. Rasanya nyaman juga melihat sebuah ide di adopsi oleh masyarakat.
Namun jumlah pemakainya sendiri tidak tahu karena rata-rata mereka
memang tidak pernah melapor ke saya kalau mengadopsi teknologi tersebut
dan hal itu bukan masalah buat saya.
Sedangkan untuk Open BTS kita masih
punya kendala karena frekuensi yang digunakan adalah frekuensi berbayar
ke pemerintah. Kalau Anda mengoperasikan Open BTS tanpa ijin maka
dianggap melanggar. Tetapi secara praktek sebetulnya sudah mulai
digunakan di daerah-daerah baik itu di perkebunan, di pertambangan
maupun di daerah terpencil seperti di Papua. Biasanya agar aman,
kebanyakan mereka membuat kerjasama operasi dengan operator yang
berlisensi.
Mengapa Open BTS dan Wajan Bolic sangat penting? Apa keuntungan dari keduanya?
Dalam bahasa yang sederhana sebetulnya
solusi-solusi ini untuk kemerdekaan rakyat di bidang TI. Masih banyak
lagi selain itu, misalnya penggunakan open source, linux, penggunakan
VoIP Rakyat dan lain-lain.
Semuanya lebih berharga dibandingkan
puluhan juta bahkan milyar jika dioperasikan oleh operator menggunakan
solusi proprietary. Masalah utamanya adalah ilmu ini tidak semua rakyat
Indonesia tahu. Makanya sebagian besar rakyat tergantung pada solusi
operator atau vendor yang mahal.
Seberapa banyakkah anak muda yang gemar
TI di Indonesia, kota manakah yang menurut pengalaman Anda berisi
anak-anak muda yang berbakat di bidang TI?
Kalau soal kualitas, anak-anak Indonesia jenius. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya anak yang menjadi juara di level Asia Pacific bahkan dunia. Masalahnya kan bukan kualitas tetapi masalah utamanya adalah kuantitas.
Kalau soal kualitas, anak-anak Indonesia jenius. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya anak yang menjadi juara di level Asia Pacific bahkan dunia. Masalahnya kan bukan kualitas tetapi masalah utamanya adalah kuantitas.
Sekarang saja, perusahaan-perusahaan TI
masih kesulitan untuk mencari SDM TI, baik itu untuk programmer,
jaringan dan lainnya. Kenapa hal ini bisa terjadi? Bisa dilihat dari 2,5
juta mahasiswa yang sedang belajar di kampus saat ini hanya 12% yang
jurusannya tehnik, baik itu tehnik mesin, sipil arsitek maupun lainnya.
Dari 12% hanya 10-20% yang jurusannya TI, berarti dari 2,5 juta
mahasiswa yang ada hanya 1-2% berjurusan TI. Belum lagi kalau maunya
lulusan yang bagus dan siap kerja tentunya makin tersaring lagi
jumlahnya.
Lemahnya, kebanyakan dosen mengajari
siswanya hanya konsep bukan skill yang menjadikan sistem perkuliahan
kita tidak bisa diandalkan. Biasanya, kalau mau mencari orang TI
berkualitas adanya di komunitas ataupun underground di dunia hacker.
Pusatnya terutama di Yogyakarta dan Malang, daerah lainnya ada di
Samarinda, Makassar dan Padang. Mereka mendapatkan ilmunya secara
otodidak.
Ke depan, dengan cara apa Anda memberikah sumbangsih untuk kemajuan anak bangsa di bidang TI secara lebih luas lagi?
Dengan tangan saya yang cuma dua, jemari
yang cuma 10 dan dengan otak saya yang cuma satu, saya akan berjuang
membuat orang pintar melalui tulisan, artikel, buku, ceramah dan
workshop.
Selain itu, saya memberikan kesempatan
orang-orang untuk mengkopi ilmu saya dalam USB harddisk. Kalau mau
silahkan kirim USB harddisk 2 TerraByte ke rumah disertai ongkos kirim
balik. Kalau ke kampus-kampus yang mengundang saya juga biasanya saya
sarankan untuk kirim USB harddisk agar ilmu saya bisa menyebar dengan
cepat. Maklum mengkopi pakai internet tidak mungkin untuk data sebesar
itu.
Perlu disyukuri, sekarang ini banyak
teman yang mendukung untuk bergerak membantu proses bikin anak Indonesia
pintar, seperti ICTWatch dan relawan TI lainnya. Kalau kita punya
banyak orang pintar, mau buat internet murah pun mudah. Atau mau buat
perangkat apapun bisa saja.


























Tidak Ada Komentar Untuk " ONNO W. PURBO Lebih baik jadi guru Demi Kecerdasan Bangsa "