100 Proyek Investasi Asing Senilai Rp. 80 Triliun Di Indonesia,
Jokowi-JK ternyata masih dinilai sebagai tujuan investasi utama, bersama negara-negara tetangga di kawasan seperti Thailand, Vietnam, atau Malaysia.
Laporan survei The Economist Corporate Network bertajuk “Investing Into Asia’s Reform Landscape: Asia Business Outlook Survey 2015” bahkan menyebutkan Indonesia berada di peringkat kedua Negara tujuan investasi utama di benu aini. Indonesia hanya kalah dari China.
Hasil survey itu sejalan dengan data Financial Times yang menunjukkan bahwa Indonesia masuk dalam jajaran lima besar Negara tujuan investor dari China dan Singapura, serta masuk daftar 10 besar tujuan investasi dari Jepang dan Korea.
Rupanya karena itu – meskipun dalam setahun terakhir perekonomian negeri ini melambat – angka realisasi penanaman modal asing (PMA) di Indonesia masih menanjak.
Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan sampai Juni 2015, realisasi PMA mencapai 4.460 proyek senilai Rp92,2triliun (sekitar US$ 7,4 miliar), atau meningkat 18,2% dari Rp78 triliun pada periode yang sama pada tahun 2014.
BKPM telah menggelar survey untuk
mengidentifikasi kemajuan pelaksanaan 100 proyek PMA yang sedang
memasuki tahap konstruksi. Hasilnya dilaporkan tidak ada hambatan
berarti. Survei ini diinstruksikan Kepala BKPM Franky Sibarani untuk
mengawal dan memastikan investasi-investasi asing tersebut berjalan
lancar, sehingga pada gilirannya bisa menggerakkan perekonomian
nasional.
Seratus proyek PMA tersebut terdiri atas: 64 proyek di
sector industri, 14 di sector kelistrikan, dan sisanya di sector
tambang, perkebunan, pariwisata, transportasi dan peternakan. Total
nilai realisasi investasi 100 PMA itu mencapai Rp 80 triliun. Angka
realisasi tertinggi dibukukan oleh sector industry dengan nilai
investasi Rp 39,3 triliun atau 27 persen dari rencana investasi. (Lihat
tabel)
“Identifikasi tersebut agar BKPM dan kementerian atau
lembaga lainnya dapat mengantisipasi lebih awal, sehingga proses
realisasi investasi tidak berhenti,” kata Kepala BKPM Franky Sibarani
Untuk mengurangi tingkat pengangguran menjadi 5,6 persen dari sebelumnya 5,9 persen (dengan angka pengangguran terbuka sebanyak 7,27 juta orang) pemerintahanJokowi-JK menargetkan penyerapan tenaga kerja mencapai 10 juta orang selama 2014-2019 atau dua juta tenaga kerja per tahun.
Berdasarkan target itu, potensi penyerapan tenaga kerja langsung dan tak langsung dari 100 PMA di atas terlihat relative kecil--sekitar 12 persen dari keseluruhan target pemerintah.Namun, angka itu sejatinya melampaui rata-rata penyerapan tenaga kerja per kuartal seluruh PMA. Selama periode 2010 - Juni 2015, rata-rata penyerapan tenaga kerja per kuartal dari seluruh proyek PMA mencapai 215.209 orang, atau 10,7 persen dari target pemerintah.
Meskipun masih relatif rendah, peranan proyek PMA dalam menyerap tenaga kerja, sekaligus menekan angka penggangguran, tetap penting. Angka serapannya cukupsignifikan. Dalam lima tahun terakhir, 2010-2014, mencapai 4,7juta orang atau bertumbuh 13,74 persen per tahun.
Penting untuk dicatat, proyek-proyek PMA tersebut sebagian besar berorientasi ekspor. Misalnya saja, sembilan PMA yang pernah dikunjungi langsung oleh Kepala BKPM Franky Sibarani mampu menyetor devisa ekspor sekitar US$800 juta per tahun dan bisa menyerap lebih dari 10 ribu tenaga kerja.
Tak kalah penting, sebagian yang lain menghasilkan produk substitusi impor senilai US$810 juta per tahun. Produk yang dihasilkan antara lain oleo chemical, sulphuric acid dan carbon disulphide.
DijelaskanFranky, Sembilan proyek tersebut sudah masuk tahap konstruksi. “Bahkan ada yang progress-nya sudah 90 persen”.
Salah satu perusahaan PMA dimaksud adalah PT Rayon Utama Makmur. Perusahaan ini memproduksi bahan baku untuk benang yang selama ini masih diimpor. Langkah ini bisa menghemat devisa US$65-67 juta per tahun. “Kapasitas produksi kami 80 ribu ton serat rayon per tahun,” kata Head of Corporate Finance Rayon Utama, Bintoro Dibyoseputro.
Selain itu ada dua proyek PMA lain yang telah dikunjungi Franky. Pertama proyek investasi Jepang yang memproduksi komponen kabel kendaraan bermotor -- di mana 90 persen bahan bakunya berasal dari dalam negeri dan 76 persen output-nya akandiekspor. Yang kedua merupakan investasi dari China, yang memproduksi olahan ikan danu dang. Seratus persen produk perusahaan ini akan diekspor dengan nilai sekitar $500 juta per tahun.
Kontribusi perusahaan-perusahaan PMA seperti ini tak boleh disepelekan. Sebab, selama ini Indonesia masih memiliki ketergantungan tinggi pada bahan baku dan bahan modal impor.
Lihat saja Data BPS. Impor industry dasar, seperti industry baja, petrokimia, dan bahan obat sepanjang Januari-September 2014 mencapai US$114,3 miliar atau sekitar 76 persen dari total impor 2013 sebesar US$149,7 miliar.
Semakin banyak perusahaan PMA dan PMDN yang menghasilkan produk subtitusi impor, semakin cepat kita terbebas dari deficit neraca perdagangan yang selama beberapa tahun terakhir menghantui perekonomian nasional.

























Tidak Ada Komentar Untuk " 100 Proyek Investasi Asing Senilai Rp. 80 Triliun Di Indonesia, "